Rabu, 28 November 2007

Maling guno / Menculik Wanita

Ini adalah cerita di tahun 1910 an.

MENCULIK SUGIYARTI


Di Wonosari Tayib mempunyai pacar, isteri seorang pembantu yang bekerja pada seorang Belanda.

Pagi-pagi benar Tayib tiba-tiba menceriterakan impiannya dengan nada belas-kasihan.

Di malam hari Tayib mimpi pacarnya, yang bernama Sugiyarti, datang dan merebahkan diri dipangkuannya dan minta dengan sangat agar diperbolehkan mengikutinya.

Karena impian itu, Tayib menugaskan kepada saya agar pergi ke Wanasari untuk menemui Sugiyarti dan membujuk agar ia mau ikut bergabung bersama dia.

Tugas ini tentu saja tidak gampang dilakukan. Membujuk seorang wanita yang punya suami dan tinggal di rumah seorang Belanda, di suatu daerah yang asing bagi saya, di mana saya samasekali tidak mempunyai pengetahuan sedikitpun dan tidak mempunyai kenalan seorangpun, merupakan suatu tugas yang mustahil dilakukan.

Alkisah, setelah saya diberi ancar-ancar di mana Sugiyarti tinggal dan ciri-ciri dan sifat-sifatnya, saya pergi kembali ke Wonosari. Sampai di sana saya menyamar dan menggunakan segala reka daya, bertindak sebagai seorang jahat, mencari rumah orang Belanda tersebut di mana Sugiyarti tinggal. Dalam waktu yang singkat rumah itu saya ketemukan, terletak di sebelah Utara jalan dan menghadap ke Selatan, di kelilingi oleh tembok dan membelakangi sawah, yang pada waktu itu penuh dengan tanaman yang tinggi dan rimbun.

Setelah satu setengah jam saya menyamar, akhirnya saya dengan diam-diam bisa ketemu dengan Sugiyarti. Saya jelaskan misi saya. Semula ia agak kurang percaya, tetapi kemudian ia bersedia bekerjasama. Ia menyarankan agar saya menunggu sementara waktu, nanti ia akan muncul lagi dan memberi isyarat, lalu saya diminta untuk menjemputnya di sawah di belakang tembok rumahnya. Jadi ia merencanakan akan melarikan diri dengan memanjat tembok dan minta kepada saya untuk menerimanya di bawah.

Tidak lama kemudian, Sugiyarti benar-benar muncul dan dari jauh ia memberikan isyarat kepada saya. Saya segera menyusup ke kebun yang kosong dengan menerobos pagar hingga ke sawah dan bersembunyi di sana sambil menantikannya. Tidak lama kemudian, ia muncul dari balik tembok, melangkah dengan kesulitan dan turun ke bawah di mana saya sudah menunggu dan menyambutnya dengan kedua tangan saya. Kita berdua bergegas-gegas melarikan diri dari tempat tersebut.

Karena jejak saya itu mengikuti jejak maling yang takut kepergok orang, jaraknya jadi lebih panjang dan terpaksa melalui tempat-tempat yang sulit dilewati. Kita harus berjalan melalui sawah-sawah dan kebun-kebun, beberapa kali harus menyeberangi sungai dan parit yang agak dalam lumpurnya. Setelah mendekati stasiun Gawok kita baru menempuh jalan biasa.

Dalam perjalanan itu Sugiyarti memberikan penegasan kepada saya bahwa apabila di kemudian hari ternyata Tayib ingkar janji, saya harus bertanggungjawab atas nasibnya.

Untung sampai di stasiun Gawok kita belum ketinggalan kereta api, hingga di sore hari saya dan Sugiyarti telah tiba di Solo dengan selamat.

Sampai di Solo Sugiyarti saya titipkan di sebuah warung, lalu saya pergi menemui Tayib di tempatnya. Kemudian kita berdua bersama-sama pergi menemui Sugiyarti untuk membicarakan langkah lanjut.

Akhirnya Tayib memberikan tugas kepada saya untuk terlebih dulu membawa Sugiyarti ke Semarang, sedangkan ia akan menyusul kemudian.
Mendengar gagasan Tayib itu, Sugiyarti menjadi ragu-ragu. Ia semakin mendekatkan diri kepada saya dan tidak mau saya tinggallkan. Kebetulan warung itu ternyata sebuah tempat yang kurang baik, tempat dagangan manusia (prostitusi), hingga Sugiyarti minta agar diajak ke tempat lain.

Memang ada hotel yang baik di daerah Cakranegaran, yakni Java Hotel. Alangkah enaknya kalau saya bawa Sugiyarti ke hotel itu karena sepanjang hari saya belum istirahat samasekali. Namun setelah saya pikir-pikir, saya tidak mau masalah Tayib ini berubah menjadi beban saya.

Jadi semalam suntuk saya dan Sugiyarti bersama-sama berputar-putar di kota Solo. Kalau capai, kita berhenti di pinggir jalan atau di tempat yang sepi. Waktu mengantuk, kita masuk ke warung, makan-makan sambil duduk beristirahat.
Ada baiknya kota Solo tidak pernah sepi di waktu malam, di mana-mana selalu banyak orang bepergian dan banyak warung yang buka hingga pagi, hingga waktu yang saya habiskan dengan Sugiyarti semalam suntuk tidak begitu terasa, dan kita berdua juga tidak menarik perhatian orang banyak.

Pagi harinya, saya, Sugiyarti dan Kasan berangkat ke Semarang dengan membawa koper Tayib. Saya langsung menuju ke rumah Pak Wongso, yang selalu menyambut kedatangan saya dengan segala senang hati. Sementara menantikan kedatangan Tayib, Sugiyarti saya ajak melihat-lihat kota Semarang, supaya senang hatinya.

Dua hari kemudian, Tayib muncul, hanya sebentar dengan maksud menyerahkan Sugiyarti agar dikembalikan ke tempatnya karena ia merasa telah berbuat kekeliruan dan menyatakan penyesalan telah minta saya untuk menculiknya.

Dugaan saya, barangkali Tayib akhirnya menyadari bahwa ia masih cucu R. Hadji Mohamad Idris, Pengulu Kepala, yang sangat dihormati orang, oleh sebab itu ia tidak mau terlibat dalam tindakan yang aneh-aneh. Setelah pertemuan singkat itu, Tayib pergi dan tidak pernah muncul lagi. Di Semarang, ia mondok di tempat sahabat lamanya, seorang priyayi yang sudah lama tinggal di Semarang, bernama R. Mohamad Yusup.

Mendengar keputusan Tayib itu, saya, Kasan dan Sugiyarti jadi terkejut, tidak bisa bicara, menyesalkan sekali sikapnya yang telah menimbulkan kesulitan dan dapat mengakibatkan terlantarnya hidup seseorang tanpa menunjukkan rasa belas kasihan.

Sugiyarti kelihatan menangis, masuk ke kamar tidurnya, tidak muncul-muncul lagi dan tidak berkata sepatahpun. Tentunya ia merasa sakit hatinya dan sangat sedih. Betapa tidak, ia dengan bersusah payah telah meninggalkan suaminya, meninggalkan pekerjaannya, untuk dapat bersama dengan orang yang dikiranya mencintainya, tetapi hanya diperlakukan sewenang-wenang oleh Tayib.

Setelah saya bujuk dengan kata-kata yang menyenangkan hatinya, akhirnya Sugiyarti bersedia kembali ke Solo. Sebagai penghibur hati, kepadanya saya berikan empat potong kain yang saya ambil dari koper Tayib, serta satu potret dan sejumlah uang, sebagai pengganti kerugian.